cari...

Tuesday, July 2, 2013

Saatnya Stop Bullying di Sekolah!



Kata bullying sangat akrab di teliga kita, apalagi setelah ramai terdengar seringnya berita kekerasan yang telah terjadi di beberapa sekolah. Selama belajar di sekolah, mungkin kita juga termasuk salah satu korban dari bullying teman-teman kita sendiri, namun kita tidak menyadari ternyata tindakan teman-teman tersebut termasuk dalam kategori bullying.

Beberapa tindakan yang termasuk bullying adalah seperti bullying dengan kata-kata (mengejek, memaki, mengancam, menfitnah, memberikan julukan yang macam-macam dll) dan bullying dengan tindakan seperti (mencubit, menendang, memelototi, mengambil barang orang lain, merusak barang lain, mengintimidasi dll). Yang pasti tindakan bullying dilakukan dalam rangka menunjuk jika seorang anak lebih kuat daripada siswa yang lain, dalam bahasa kasarnya ingin menjadi ‘ preman kelas’.

Seorang siswa yang pendiam atau kelihatan lemah sering kali akan menjadi sasaran siswa-siswa yang lebih kuat. Contohnya, seorang siswa yang lebih kuat seringkali mengancam siswa yang lebih lemah untuk melakukan tindakan yang menguntungkan dirinya seperti pemaksaan untuk meminjam tugas PR untuk ditiru, memaksa untuk mengerjakan tugas kelompok yang menjadi bagiannya dengan disertai ancaman-acaman tertentu, dan menyerobot uang saku atau bekal sekolah teman yang lebih lemah. Contoh lainnya adalah siswa yang merasa dirinya lebih beruntung akan mengejek temannya yang kurang beruntung misalnya siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu, atau siswa yang memiliki kekurangan secara fisik dan memberikan julukan-julukan yang aneh.


Bullying menjadikan siswa yang lemah menjadi bulan-bulanan oleh siswa yang lebih kuat. Jika ini terjadi maka ada dua dampak yang bisa muncul. Pertama, siswa yang kuat akan memiliki bibit untuk menanam benih jiwa kekerasan pada dirinya. Dia akan memandang siswa lain lebih rendah daripada dirinya sehingga dia tidak memiliki jiwa menghormati satu sama lain. Dia juga bisa menjadi anak yang susah untuk diatur karena selalu pada posisi untuk mengatur. Untuk prestasi belajar, rata-rata siswa yang sering melakukan bullying tidak begitu istimewa.

Kedua, siswa yang sering terkena bullying sering kali akan merasa rendah diri, bahkan untuk beberapa kasus tertantu bisa mengganggu perkembangan mentalnya. Saya sendiri pernah menjumpai seorang siswa perempuan yang selalu diancam dan diejek oleh teman-temannya akhirnya memutuskan untuk tidak mau lagi berangkat ke sekolah. Dia merasa takut dan keamanan dirinya terancam sehingga motivasi belajarnya turun dengan drastis. Sungguh sangat ironis.

Tidak semua siswa kuat menahan gangguan bullying yang dilakukan teman-temannya. Ironisnya, tindakan bullying sering kali luput dari pengamatan bapak /ibu guru termasuk orang tua siswa. Misalnya bullying terjadi saat jam istirahat  di luar pengawasan bapak / ibu guru. Bahkan sekolah sendiri sering kali kurang peduli dengan tindakan bullying yang dilakukan oleh beberapa siswa. Bullying seringkali dianggap sebagai kenakalan biasa. Bahkan anehnya lagi, tidak jarang anak-anak yang terkena tindakan bullying hanya berdiam diri dan takut untuk melaporkannya kepada bapak / ibu guru dan orang tua mereka.

Saatnya bullying harus menjadi permasalahan serius yang harus diperhatikan. Setiap siswa memiliki hak yang sama. Jangan biarkan bullying menjadi benih awal tumbuhnya jiwa kekerasan, anarkisme dan premanisme. Orang tua, guru, dan siswa harus memiliki kesadaran untuk saling berbicara jika bullying terjadi. Salam pendidikan!

sumber : grahabelajar.com

No comments:

Post a Comment